Info Utama

16 November 2018, Humas DIY

Jasa Raharja Sosialisasi di SMK SMTI Yogyakarta

(14/11/2018) – Jasa Raharja melakukan Sosialisasi Tata Cara Pengurusan Santunan Kecelakaan di Sekolah Menengah Kejuruan Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK SMTI). lu LDalam kesempatan itu juga dilakukan sosialisasi Budaya Tertib Berlalu Lintas yang disampaikan Direktorat Laintas Polda DIY.


Penanggungjawab Humas Jasa Raharja DIY, Aryo W. Kusuma SH. Aryo mengatakan, setiap korban kecelakaan lalu lintas dan angkutan umum berhak mendapatkan santunan dari Jasa Raharja. Kecuali kendaraan pribadi yang mengalami laka tunggal tak mendapatkan santunan dari Jasa Raharja.

 

Dana santunan itu diperoleh dari sumbangan wajib yang dibayarkan para pemilik kendaraan bermotor ketika membayar pajak kendaraan dan penumpang yang membeli tiket ketika menggunakan transportasi umum. “Kecelakaan motor tunggal seperti tergelincir, masuk jurang, dan sebagainya itu tidak dijamin oleh asuransi Jasa Raharja. Tapi berbeda dengan misalkan kalau bus terjun ke jurang,semua penumpang ditanggung oleh Jasa Raharja meski tidak ada lawannya,” kata Aryo.


Santunan itu sesuai dengan Permenkeu RI Nomor 16/PMK.10/2017 tanggal 13 Februari 2017. Untuk nilai santunan kecelakaan darat dan laut sebesar Rp 50 juta. Itu bagi korban meninggal dunia dan untuk korban yang mengalami luka-luka mendapatkan biaya perawatan maksimal sampai dengan Rp 20 juta. Sedangkan untuk cacat tetap Rp 50 juta namun sesuai prosentasi. “Korban kecelakaan yang tidak memiliki ahli waris mendapatkan biaya penguburan sebesar Rp 4 juta. Ada juga biaya pengganti P3K sebesar Rp 1 juta, dan biaya ambulan Rp 500 ribu,” terang Aryo. Sosialisasi ini gencar dilakukan ke sekolah karena korban kecelakaan didominasi usia produktif seperti pelajar dan mahasiswa.


Kanit 2 Subdit Dikyasa Ditlantas Polda DIY, AKP Slamet Subiyantoro mengatakan, angka kecelakaan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih tergolong tinggi. Ironisnya, paling banyak dialami oleh usia produktif yaitu antara 17 tahun hingga 30 tahun.
Untuk menghindari kececlakaan, Slamet meminta kepada para siswa SMK SMTI mau memahami dan mengetahui bagaimana etika saat berada di jalan raya.

 
Pengendara sepeda motor dan mobil di jalan raya tidak diperbolehkan menggunakan handphone. Selain itu, pengendara sepeda motor jangan lupa selalu memakai helm, pengendara mobil selalu memakai sabuk keselamatan, tidak boleh melawan arus.
“Alasan orang memakai helm karena supaya tidak ditilang polisi, padahal memakai helm ini akan sangat bermanfaat untuk melindungi masa depan dan keselamatan diri kita sendiri,” papar Slamet.


Slamet mengingatkan kepada masyarakat yang akan bepergian selalu menyiapkan tiga hal. Yakni, siap diri, siap kondisi kendaraan, dan siap menaati peraturan lalu lintas. Siap diri atau kondisi pengemudi ini meliputi kesehatan pengendara secara fisik, batin, dan mahir, sedangkan siap kondisi kendaraan meliputi kelengkapan kendaraan itu sendiri, yakni spion, lampu sen, rem, dan sebagainya harus sudah dalam kondisi siap untuk digunakan. (*)

(Humas JR DIY/AWK)